Conflicts

Conflict is inevitable among humans. In fact, a question can be asked to those who seldom deal with conflict in any of their relationships: is their relationship healthy? I will not say that those who are often in conflict have healthy relationship (they don’t, most of the time). If they argue a lot, let alone based on simple things, we can be pretty sure that they just are not compatible together.

When dealing with conflicts, people often picture themselves as the victim. People love to play victim. They will see themselves as the ones that have to suffer real pain and that the other person doing harm is so cruel, mean, insensitive, and lots of other bad things. Well, the truth is, we are so self-oriented that we are not able to frame ourselves in another point of view. We are so selfish, we cannot see that we could be the one who hold the knife and stab our partner. We are so blinded by rage that lots of good memories we had are never taken into account. What we see is only our own pain and his/her evil means.

When blinded by such hatred and anger, love is not there. Part of love is about understanding each other, and yet all we do is to cry over the unfairness we think we experience and question why this relationship exists the first place. Where is the understanding part in it? People are so blinded by their own rage that they forget how to love. A simple act will do: take a deep breath and ask yourself, “Am I doing this the right way? Have I loved this person enough? I probably haven’t.”

Those who are powered by love will not be ashamed to say sorry, guilty or not. You care more about the relationship than your own justification that you are the right one. Unwilling to say sorry might be a sign that we are still too selfish and overpowered by our own will. Say the word and let the magic word melt the cold heart. Let the confession begin. Let the heart be touched and let the relationship be stronger.

If you are doing that right, you will have the healthiest kind of a relationship: a relationship that is willing to be changed for good, a relationship where forgiveness is abundant, a relationship where love is the only source of power.

Written as a reminder to myself that in order to have the best relationship, one must be willing to actively maintain it.

A Reminder to Myself

A friend of mine once talked to me, “You will never be sure of what lies up ahead.” I didn’t really give a thought about it until I graduated. Yes, being able to graduate from one of top universities in Indonesia seems cool. It was cool… until the day of graduation. After that, questions like, “Now what?” or “What should I do now?” will always pop into your head.

It is always hard to make a decision, especially if the decision is big. You are afraid to screw things up. I am. We are all afraid. The problem is, we can’t really run away from making a decision. There will be some time — maybe now, maybe in the future, who knows? — when we have to make decision. Big decision.

I am now in that kind of situation. I realize now that the problem I am faced with is somewhat more complex. I learn to be a man of my own. Quoting my friend: “The choices used to be clear, you just had to choose and gave all of your efforts to achieve that. Now, you don’t even know which one you should consider as the choice.” Imagine that you were faced with a multiple choice questions, but now you have to fill in the blank. It is somewhat harder, right?

So, contemplating this for so many times, I think that I should not worry too much about what will I do in the future. Life is a sequence of decisions. It is always started with one decision. You have to live it up before knowing what step you should take next. What decision you should take next.

I would suggest you this: stop worrying too much and start taking actions. If in the future you think you are making a mistake, then stop doing that and learn from it. Your next decision won’t be so bad as before. Life should be made as simple as possible, yet it has to be made as precious as possible. That’s the challenge.

Written as a reminder to myself

Pesta Demokrasi

Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasinya pada Juli ini, dengan agenda pemilihan presiden dan wakil presiden, setelah menyelenggarakan pemilihan legislatif pada April lalu. Bagi sebagian orang, ini adalah saat yang dinanti-nanti, karena ada harapan untuk hidup di Indonesia yang lebih toleran, lebih cerdas, dan lebih damai. Bagi sebagian orang, saat-saat ini tidak ada bedanya dengan hari-hari kebanyakan. Mungkin karena mereka belum bisa menyuarakan aspirasi mereka, atau jangan-jangan mereka telah putus harapan.

Buat saya pribadi, momen ini cukup saya nantikan, sebab di usia yang menginjak dewasa ini, saya sedikit banyak telah melihat fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar saya dan bisa saya dan teman-teman mahasiswa lain analisis dengan rasio mahasiswa saya, yang memang masih jauh dari berpengalaman. Dengan banyaknya sorotan media terhadap kinerja pemerintah, saya memiliki akses yang sangat melimpah untuk mengkritisi apa yang pemerintah lakukan. Sebagai akibatnya, ada beberapa hal yang membentuk karakter saya seperti sekarang. Ada beberapa hal yang ingin saya lakukan ketika telah memiliki cukup kuasa dan pengalaman. Ada idealisme yang tercipta.

Saya masih tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang menteri melakukan korupsi. Tidak hanya satu dua orang, namun banyak! Ini menunjukkan bahwa tingginya jabatan tidak serta merta diikuti oleh karakter yang baik. Ada kekecewaan yang muncul, ada olok-olok yang muncul, ada harapan baru yang muncul. Saya sangat berharap, siapapun presidennya, hendaklah ia memillih orang-orang kepercayaannya dengan bijaksana. Meskipun politik tidak dapat diragukan lagi akan ambil andil dalam penentuan kursi, bukan berarti politik harus selalu kotor. Saya percaya, politik kotor karena pelakunya kotor. Di mata saya, politik yang baik adalah politik yang motivasinya murni: memajukan Indonesia. Indonesia dalam arti luas, seluas-luasnya, bukan memajukan golongan tertentu saja. Yang masih saya lihat sangat jauh dari yang saya bayangkan. 

Ya, tinggal menghitung minggu saja hingga pemilihan presiden dilaksanakan. Saya telah memiliki pilihan saya, dan saya harap pilihan saya tepat. Saya berharap setidaknya kita sebagai partisipan paling pasif dalam pesta demokrasi inipun bisa terlibat: dengan memastikan surat suara yang menjadi hak kita tidak disalahgunakan golongan tertentu. Akan jauh lebih baik lagi jika kita sanggup menyuarakan pendapat kita, atau bahkan berkontribusi secara langsung, dalam segala aspek. Hal-hal lokal yang kita lakukan akan menjadi bermakna secara global jika dikerjakan secara masif, bersama-sama.

Yuk, sukseskan pesta demokrasi terbesar Indonesia! Yuk, berharap untuk Indonesia yang lebih baik lagi di tangan pemuda bangsa pilihan rakyat Indonesia!

About Trust

Have you ever gotten hurt by someone, in any form? It will hurt more if it comes from our beloved ones. It would feel totally painful: it feels like I don’t really understand them. The worst part? We put less trust towards them.

Or… have you ever hurt someone? Another painful thing is if it’s someone we care about. What’s remaining is only regret. The relation will not be the way it used to be anymore.

Don’t break the trust given to you. When you gain someone’s trust, it means that a part of that person is given to you. Breaking that trust means killing a part of that person. We become a killer.

Trust is earned, not given. It will sound totally cliché when you’re not in any trouble. But believe me, when you’re dealing with trust issues, you will realize that trust is indeed very hard to earn.

If you are sane (and lucky) enough not to have broken any trust given to you, then don’t ever try to play around with that. Take very good care of that. If you have broken someone’s trust, go apologize and show your deepest regret. Don’t expect them to forgive you. Don’t expect their trust towards you to be the same as before. I learn this the hard way. You have to re-earn their trust. Show that you are willing to change. Act like it and not just sugarcoat words.

So let’s give it a thought: have I done my best to take care of every trust given to me?

Kemahasiswaan Kita

Baru tadi saya menghadiri dua rapat anggota di dua organisasi yang saya masuki, dan keduanya memberikan saya suatu pelajaran.

Menjadi pembuat kebijakan itu sulit, apalagi kalau kebijakannya menyangkut hajat hidup orang banyak. Banyak kepala yang harus dipikirkan, banyak juga cibiran dan protes yang berpeluang kita dapatkan. Ada orang-orang yang sangat menyebalkan namun harus kita ‘hormati’, yang tampak tidak pernah puas dengan kinerja kita. Akan ada orang-orang yang yang selalu mencari-cari kesalahan kita, yang baginya bisa menjatuhkan orang lain adalah suatu kepuasan. Ini baru skala organisasi kemahasiswaan, ya. Idealisme masih panas-panasnya membara sebagai prinsip. Debat kusir, forum yang bertele-tele yang intinya mempertahankan ego pribadi, dan bahkan saling menjatuhkan satu sama lain bisa saja ditemui.

Sekarang, bayangkan Anda sangat ingin mengubah Indonesia. Beberapa dari Anda bercita-cita duduk di kursi pemerintahan. Anda mengikuti berita tentunya, Anda mengkritisi kinerja pemerintah (baik pusat maupun daerah) seolah-olah Anda tahu keputusan terbaik yang seharusnya diambil. Kita semua pernah melakukannya, termasuk saya juga. Kita menyalahkan pemerintah karena tidak becus mengurus negara. DIkuasai oleh ketamakan, diisi orang-orang yang tidak punya hati untuk rakyat, dan lain sebagainya.

Sekarang, ini yang menghantui saya: saya takut, jika nantinya saya bekerja di pemerintahan, saya akan bekerja dengan orang-orang yang ‘bodoh’, yang justru akan menjegal ‘mimpi’ saya. Nanti saya akan dijadikan kambing hitam, karena menolak bekerja dengan cara yang tidak jujur. Saya takut tergoda dalam jeratan untuk korupsi. Saya takut terjerumus dalam praktek-praktek kecurangan yang menyebabkan idealisme saya luntur, membuat saya menjadi seorang munafik.

Semua itu benar-benar terpikirkan dalam diri saya. Saya malah jadi gentar untuk bekerja di pemerintahan (saya memiliki keinginan suatu saat nanti untuk bekerja di kementerian pendidikan), karena saya takut saya tidak akan bisa berkembang. Apa tidak sebaiknya pindah ke tempat yang lebih menghargai kita? Apa tidak sebaiknya pindah ke tempat dimana kita bisa lebih berkembang? Toh niatnya ingin membuat perubahan, tidak harus di Indonesia kan? Daripada sia-sia, apa tidak lebih baik menetap di luar negeri saja?

Jujur, ada pemikiran seperti itu. Melihat fenomena di organisasi saya saja sudah membuat saya miris setengah mati. Ini isinya orang-orang yang (katanya) terpelajar dari kampus terbaik Indonesia, loh. Tapi kok kalau di forum, pengambilan keputusan sederhana saja bisa memakan waktu lama sekali. Kalo datang forum (yang kebanyakan jatuhnya juga bertele-tele) sampai malam dibela-belain, tapi begitu besoknya kuliah, lebih pilih bolos. Itu terjadi loh di kampus saya.

Tapi kemudian, saya berpikir lagi. Bukankah dimana-mana juga akan ada orang-orang seperti ini, yang hanya bisa koar-koar tanpa menjadikan dirinya teladan, yang selalu mencari celah untuk menyalahkan orang lain, dan yang tidak dewasa? Tidak hanya di Indonesia sepertinya, di luar juga banyak. Pasti ada. Mungkin sisi positif dengan kita terbiasa terpapar suasana kemahasiswaan yang seperti ini adalah, kita belajar memahami kebutuhan orang lain. Ada orang yang tidak berpikir sebagaimana kita berpikir, tapi juga butuh hal yang sama dengan kita. Kita belajar melihat pluralnya pemikiran manusia, sehingga ketika kita berada di lingkungan yang lebih plural lagi, semisal lingkungan kerja atau bahkan lingkungan tempat tinggal kita nantinya, kita tidak akan sekaget itu dan berkata “Kok bisa ya ada orang-orang kayak gini masih hidup aja?”

Segala tulisan saya di atas mungkin tampak egois. Kok berani-beraninya saya menempatkan diri saya seolah-olah saya yang paling tahu apa yang seharusnya dilakukan? Siapa saya kok berani-beraninya menyebut orang lain ‘bodoh’? Begini, yang saya anggap ‘bodoh’ adalah orang-orang yang sebaiknya dikasihani dan bila bisa, diubah pola pikirnya, yaitu orang yang suka menyalahkan keadaan dan tidak menjadi bagian dari solusi, atau orang yang tidak mau belajar. Buat saya, orang yang tidak tahu tetapi dengan rendah hati mau belajar jauh lebih mulia daripada orang yang pintar bercuap-cuap dan menyetir orang lain namun tidak mau disalahkan kalau memang bersalah. Buat saya, orang yang suka datang forum kemahasiswaan sampai tengah malam namun besoknya bolos kuliah tidak lebih mulia daripada orang yang study-oriented banget, yang bahkan gak bergabung dengan organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan apapun.

Tulisan saya ini murni saya utarakan untuk berbagi pikiran saja. Saya belum tentu memiliki argumentasi yang paling benar. Dengan segala kerendahan hati, saya meminta kritik dan saran jika ada perkataan saya yang tidak berkenan 🙂

Bienvenue, 2014!

Because it’s 2014 now (at least in Indonesia and other countries that are GMT + n, n > 6), I would like to write my personal goals. To make it simple, I will just say it. I hope in 2014 I can travel a lot. As for study, I want to graduate on time (so it will be around July) and continue my study to graduate level. Oh, and also joining some competitions and achieve something.

I want to make more friends. Be closer to my current friends. More laugh shared, more smile made. Stay humble, or at least try to be humble. Be more responsible in every task assigned. Be more grateful on everything.

As for the last goals, it will be my personal vision. Every year I try to make personal goals and personal vision, and in the end of the year I contemplate. As for 2013, I’m satisfied enough. Although there are disappointment, anger, sadness, tears all happening in 2013, but that makes me who I am now. So, I will continue my personal vision from last year, and add one more: be grateful on everything.

So, I would suggest you to set your own goals. Dream it. Reach it. Happy new year 2014, folks! 

Farewell, 2013!

Hari ini hari terakhir di 2013. Kalau di Bandung, sedari pagi sudah hujan. Saking lamanya hujan, selesainya hujan pukul 12 berasa kayak pukul 7 pagi. Dingin, hehehe. Yah, bukan itu sih yang mau ditulis disini *salah fokus*. Postingan ini mau menulis ucapan terima kasih untuk tahun 2013.

Tahun ini adalah tahun yang istimewa. Kenapa begitu? Banyak hal terjadi selama tahun ini. Dimulai dengan menjadi ketua konser PSM ITB Mei kemarin, yang persiapannya sudah dilakukan sejak Januari, dan Puji Tuhan menuai sukses *peluk semua panitianya*, berkesempatan mengikuti ONMIPA lagi di Yogyakarta, yang seleksi daerahnya dilakukan di tengah-tengah padatnya kuliah dan kesibukan berorganisasi, dan seleksi nasionalnya dilaksanakan beberapa hari setelah konser berakhir. Masa-masa itu benar-benar masa pembelajaran bagi saya. Zona nyaman sama sekali tidak ada. Yang ada kecemasan, ketakutan, kemarahan, kesedihan, semua jadi satu. Tapi karakter bisa ditempa kalau zona nyaman tidak ada. Puji Tuhan lagi bisa dapat perak pertama. Nyaris emas, tapi itu sudah lebih dari cukup mengingat persiapan tidak semaksimal tahun sebelumnya. Puji Tuhan lagi, nilai gak terlalu jeblok jatuhnya. Masih bagus lah itungannya. Coba bayangkan, manusia mana yang bisa kerjakan studi dan kesibukan di organisasinya, kesemuanya berjalan dengan baik? Sepertinya tidak ada. Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, siapa lagi yang bisa buat semua itu?

Kemudian, pada seleksi untuk tingkat internasional, ini lagi-lagi pembelajaran yang luar biasa. Peringkat saya dibanding tahun lalu memang jauh naik, tapi tidak cukup tinggi untuk menjadi kontingen Indonesia, karena yang diambil hanya 8 sedangkan saya peringkat 11 kalau ga salah. Malahan saya harus melihat teman-teman saya yang lolos. Sedih rasanya, dan butuh waktu lama untuk melepaskan kesedihan itu. Istilah kerennya, move on. Tapi rencana Tuhan bukan itu. Saya sadar, betapa motivasi saya untuk lolos itu sangat duniawi. Usaha saya belum cukup maksimal. Saya beruntung memiliki sahabat-sahabat yang baik. Saya beruntung memiliki orang tua yang pengertian. Karena mereka, saya bisa berdamai dengan Tuhan tanpa menunggu terlalu lama. Dalam masa pendamaian itu, saya belajar banyak sekali mengenai bagaimana memurnikan motivasi dan bagaimana mendengar apa yang menjadi mau-Nya.

Setelah itu, saya masuk semester 7. Mulai harus pilih dosen pembimbing dan topik TA, mulai fokus pilih mata kuliah yang spesifik (beberapa hanya bisa dijumpai di S2), dan harus lebih serius berstudi. Di samping kegiatan di himpunan, saya memilih untuk tidak berkarya di tempat lain dulu. Puji Tuhan lagi, semester ini tidaklah mengecewakan. Saya dapat dosen pembimbing yang cocok dengan saya, dan topik yang saya suka. Mengerjakannya menyenangkan, meskipun beberapa kali saya stuck dan menjadi malas mengutak-atiknya :p

Di samping itu, saya berkesempatan menjadi pendamping mahasiswa Kanazawa University yang berkunjung ke ITB September-Oktober lalu. Mereka kesini dalam rangka pertukaran pelajar, dan FMIPA ITB akan membalas kunjungan tersebut dengan mengirimkan mahasiswanya ke Kanazawa University, Januari mendatang. Mahasiswa yang dikirim adalah yang kemarin menjadi pendamping.

Jadi, 2013 bukan tahun yang menyebalkan. Justru di tahun ini, saya berkesempatan merasakan kebesaran Tuhan. Visi saya di tahun 2013 sedikit banyak terjawab dengan cara yang sama sekali tidak disangka-sangka. Duh :’)

Liburan kali ini saya tidak pulang ke rumah, karena mau persiapkan seminar 1. Ini Natal pertama saya tanpa berada di sekitar orang tua dan adik-adik. Meskipun begitu, Natal adalah tentang Dia. Memang ada suasana yang berbeda di Natal kali ini, namun itu tidak boleh mengurangi makna Natal kita. 

Jadi, tanpa bermaksud untuk menyombongkan diri dengan menulis pencapaian-pencapaian di atas, saya ingin mengajak teman-teman untuk merenungkan, kebaikan apa yang sudah teman-teman dapat dari Tuhan? Kalau mau direnungkan dengan sungguh-sungguh, pasti banyak sekali. Ia bekerja dengan cara yang tak terduga. Kalau kita merasa tidak mendapat apa-apa di tahun ini, itu pasti karena akal budi kita yang terbatas untuk memahami cara Ia bekerja. Mintalah hikmat dariNya, pasti dikasih 🙂

So, I am truly grateful for everything that God has given to me in 2013. Farewell, 2013. See you soon, 2014! 😀