Kemahasiswaan Kita

Baru tadi saya menghadiri dua rapat anggota di dua organisasi yang saya masuki, dan keduanya memberikan saya suatu pelajaran.

Menjadi pembuat kebijakan itu sulit, apalagi kalau kebijakannya menyangkut hajat hidup orang banyak. Banyak kepala yang harus dipikirkan, banyak juga cibiran dan protes yang berpeluang kita dapatkan. Ada orang-orang yang sangat menyebalkan namun harus kita ‘hormati’, yang tampak tidak pernah puas dengan kinerja kita. Akan ada orang-orang yang yang selalu mencari-cari kesalahan kita, yang baginya bisa menjatuhkan orang lain adalah suatu kepuasan. Ini baru skala organisasi kemahasiswaan, ya. Idealisme masih panas-panasnya membara sebagai prinsip. Debat kusir, forum yang bertele-tele yang intinya mempertahankan ego pribadi, dan bahkan saling menjatuhkan satu sama lain bisa saja ditemui.

Sekarang, bayangkan Anda sangat ingin mengubah Indonesia. Beberapa dari Anda bercita-cita duduk di kursi pemerintahan. Anda mengikuti berita tentunya, Anda mengkritisi kinerja pemerintah (baik pusat maupun daerah) seolah-olah Anda tahu keputusan terbaik yang seharusnya diambil. Kita semua pernah melakukannya, termasuk saya juga. Kita menyalahkan pemerintah karena tidak becus mengurus negara. DIkuasai oleh ketamakan, diisi orang-orang yang tidak punya hati untuk rakyat, dan lain sebagainya.

Sekarang, ini yang menghantui saya: saya takut, jika nantinya saya bekerja di pemerintahan, saya akan bekerja dengan orang-orang yang ‘bodoh’, yang justru akan menjegal ‘mimpi’ saya. Nanti saya akan dijadikan kambing hitam, karena menolak bekerja dengan cara yang tidak jujur. Saya takut tergoda dalam jeratan untuk korupsi. Saya takut terjerumus dalam praktek-praktek kecurangan yang menyebabkan idealisme saya luntur, membuat saya menjadi seorang munafik.

Semua itu benar-benar terpikirkan dalam diri saya. Saya malah jadi gentar untuk bekerja di pemerintahan (saya memiliki keinginan suatu saat nanti untuk bekerja di kementerian pendidikan), karena saya takut saya tidak akan bisa berkembang. Apa tidak sebaiknya pindah ke tempat yang lebih menghargai kita? Apa tidak sebaiknya pindah ke tempat dimana kita bisa lebih berkembang? Toh niatnya ingin membuat perubahan, tidak harus di Indonesia kan? Daripada sia-sia, apa tidak lebih baik menetap di luar negeri saja?

Jujur, ada pemikiran seperti itu. Melihat fenomena di organisasi saya saja sudah membuat saya miris setengah mati. Ini isinya orang-orang yang (katanya) terpelajar dari kampus terbaik Indonesia, loh. Tapi kok kalau di forum, pengambilan keputusan sederhana saja bisa memakan waktu lama sekali. Kalo datang forum (yang kebanyakan jatuhnya juga bertele-tele) sampai malam dibela-belain, tapi begitu besoknya kuliah, lebih pilih bolos. Itu terjadi loh di kampus saya.

Tapi kemudian, saya berpikir lagi. Bukankah dimana-mana juga akan ada orang-orang seperti ini, yang hanya bisa koar-koar tanpa menjadikan dirinya teladan, yang selalu mencari celah untuk menyalahkan orang lain, dan yang tidak dewasa? Tidak hanya di Indonesia sepertinya, di luar juga banyak. Pasti ada. Mungkin sisi positif dengan kita terbiasa terpapar suasana kemahasiswaan yang seperti ini adalah, kita belajar memahami kebutuhan orang lain. Ada orang yang tidak berpikir sebagaimana kita berpikir, tapi juga butuh hal yang sama dengan kita. Kita belajar melihat pluralnya pemikiran manusia, sehingga ketika kita berada di lingkungan yang lebih plural lagi, semisal lingkungan kerja atau bahkan lingkungan tempat tinggal kita nantinya, kita tidak akan sekaget itu dan berkata “Kok bisa ya ada orang-orang kayak gini masih hidup aja?”

Segala tulisan saya di atas mungkin tampak egois. Kok berani-beraninya saya menempatkan diri saya seolah-olah saya yang paling tahu apa yang seharusnya dilakukan? Siapa saya kok berani-beraninya menyebut orang lain ‘bodoh’? Begini, yang saya anggap ‘bodoh’ adalah orang-orang yang sebaiknya dikasihani dan bila bisa, diubah pola pikirnya, yaitu orang yang suka menyalahkan keadaan dan tidak menjadi bagian dari solusi, atau orang yang tidak mau belajar. Buat saya, orang yang tidak tahu tetapi dengan rendah hati mau belajar jauh lebih mulia daripada orang yang pintar bercuap-cuap dan menyetir orang lain namun tidak mau disalahkan kalau memang bersalah. Buat saya, orang yang suka datang forum kemahasiswaan sampai tengah malam namun besoknya bolos kuliah tidak lebih mulia daripada orang yang study-oriented banget, yang bahkan gak bergabung dengan organisasi kemahasiswaan atau kepemudaan apapun.

Tulisan saya ini murni saya utarakan untuk berbagi pikiran saja. Saya belum tentu memiliki argumentasi yang paling benar. Dengan segala kerendahan hati, saya meminta kritik dan saran jika ada perkataan saya yang tidak berkenan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s