Dialog

Kalau kita mendengar kata dialog, apa yang terlintas pertama kali? For me, it’s two people speaking. Memang kenyataannya begitu, sih. Kamus manapun juga bakal bilang gitu. Kalau sendirian namanya monolog. Mungkin kalo banyak orang, namanya polilog. Oke, kayaknya jayus ya…

Tapi, bukan itu yang mau dibicarakan disini. Saya tidak akan berbicara tentang percakapan sehari-hari. Juga tidak sedang berbicara tentang pertukaran informasi sederhana (yang lebih mirip ke tanya jawab, mungkin ya), atau argumentasi yang (kadang) lebih menekankan benar salah ketimbang esensi yang sedang diperdebatkan.

Think of dialogue more than just your daily conversation, your daily chit-chat, (useless) argumentation. Saya mencoba memandang dialog sebagai proses pertemuan antar jiwa. Kenapa ia boleh bernilai lebih, karena dialog membuka suatu hubungan antar pribadi. Tidak ada hubungan yang akan berjalan dengan kuat jika tidak ada dialog. Siapa yang diberikan kesempatan untuk berdialog? Hanya manusia. Tidak aneh kalau saya bilang begini: diberikan kesempatan untuk bisa berdialog merupakan salah satu berkat hidup yang sungguh besar.

Dialog memiliki nuansa yang lebih kaya dibandingkan percakapan biasa, karena dalam percakapan biasa, kita hanya sekedar berkomunikasi. Dalam dialog, kita saling berusaha memahami masing-masing pribadi. Kita meningkatkan kepekaan kita akan pribadi yang ada dalam sistem. Kedua belah pihak masing-masing saling mencari tahu dan menggali lebih tentang pribadi lain. Saya belajar bagaimana partner dialog saya memahami dunia, sembari saya berbagi pandangan saya dalam memahami dunia ini. Ada proses dua arah: menyentuh dan disentuh.

Dalam dialog, kita melihat lawan bicara kita bukan sebagai objek, namun sebagai pribadi. Kalau saya dokter, saya tidak akan melihat pasien saya sebagai ‘orang yang menderita kanker paru-paru stadium empat’. Atau kalau saya psikiater, saya tidak akan melihat pasien saya sebagai ‘orang yang kejiwaannya tidak stabil’. Sadar tidak sadar, dengan memandang orang lain sebagai objek, kita sedang merenggut kemanusiaan orang tersebut. Dengan memandang lawan bicara kita sebagai pribadi, kita secara tidak langsung telah melakukan penghormatan kepada orang tersebut. Bagaimana bisa kita berdialog kalau kita tidak menghormati lawan bicara kita?

Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk lebih peka lagi akan konsep dialog ini. Nikmati konsep dialog ini. Kenalilah lawan bicara Anda. Mulailah memandang semua orang, paling tidak orang-orang di sekitar kita dahulu, sebagai pribadi yang layak dikasihi, bukannya objek dimana kita bisa saja bermurah hari tanpa menghormatinya.

This is my midnight random post. I’d better go to sleep now. おやすみなさい!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s