We are love(d)

Tadi menyimak wawancara Desi Anwar dengan Karen Armstrong, penulis banyak buku keagamaan, dan sifatnya multi-agama, salah satunya History of God dan 12 Steps To A Compassionate Life. Saya mau coba berpendapat dengan sudut pandang pribadi saya, deh.

Yang menarik adalah dari wawancara tersebut adalah disebutkan bahwa orang-orang dewasa ini cenderung untuk mencari keberadaan seorang Sosok yang jauh lebih kuat daripada mereka. Mereka cenderung mencari rasa aman, dan adanya Sosok itulah mereka merasa jauh lebih hidup. Itu fenomena yang mulai terjadi belakangan waktu ini. Menurut saya pribadi, itu wajar. Itu hasrat pada diri manusia yang berkembang secara alami. Tuhan menciptakan manusia ciptaanNya serupa dengan Dia. Natur inilah cara Tuhan menyampaikan pesan itu kepada manusia.

Kemudian, muncul konsep tentang kasih sayang atau compassion. Semua orang pada dasarnya memiliki ini, entah terlihat atau tersembunyi. Orang yang (katanya) paling jahat pun, entah itu bos mafia atau pembunuh berantai, atau Hitler sekalipun yang katanya ruthless, pasti punya kasih. Mengapa? Karena Tuhan sendirilah kasih itu. Kasih identik dengan Tuhan. Eksistensi yang satu mengimplikasikan eksistensi yang lain. Kasih ada jika dan hanya jika Tuhan ada, mathematically speaking. Kalau Tuhan mau agar manusia sadar bahwa ia diciptakan serupa dengan Penciptanya, tentu Tuhan harus hadir dalam diri semua ciptaan-Nya. Karena Tuhan hadir, maka kasih itu sendiri hadir. Very simple.

Faktanya, mengutip kalimat dari teman saya, dunia ini haus kasih sayang. Kita memang diciptakan sepaket dengan kasih itu, by default. Tapi seperti semua pemberian, kita bisa memilih untuk menerima atau menolak. Beberapa sayangnya malah tidak tahu kalau mereka diberi, dan tidak merasa pernah diberi. Tapi dengan menerima kasih itu pun, tidak berarti pekerjaan kita selesai. Tidak berarti we are the lucky one to receive the gift. Everyone should receive the gift. Jadi, jauh banget dari selesai. Kalau kita kembali ke pertanyaan awal: Kenapa dunia haus kasih sayang? Karena banyak sekali yang menolak pemberian itu, bahkan tidak tahu kalau mereka diberi, for free!

Peperangan, terorisme, genosida, atau lebih umum lagi, iri hati, sombong, percabulan, dan semua perbuatan kedagingan lainnya muncul dari orang-orang yang menolak atau tidak tahu ini. Semuanya itu menyakitkan. Kalau bukan kita sebagai pihak yang tahu kalau hal-hal tersebut menyakitkan yang mencegah hal-hal tersebut muncul, lalu siapa lagi?

Nah, terkait sama paragraf awal-awal di atas, banyak orang yang mulai mencari-cari Sosok agung yang jauh lebih perkasa darinya, mencari rasa aman akan marabahaya yang mungkin mereka hadapi, atau akan terjadi pada mereka. Itu mengindikasikan semakin banyak orang yang menerima kasih itu. Itu berita yang sangat baik! But there’s a but.

Here’s the but:

Penting juga menurut saya untuk dicatat, bahwa kita harus mengasihi diri sendiri terlebih dahulu, sebelum mengasihi orang lain. By doing so, we can treat other people the way we wish to be treatedand the necessary condition for that to happen is when we have that gift called love implemented to ourselvesIt’s even stated clearer in the Bible: Love your neighbor as yourself (Mat. 22:39)

Bedakan mengasihi diri sendiri dengan menjadi egois, ya. It’s entirely different. Mengasihi diri sendiri itu, membiarkan Tuhan membentukmu menjadi pribadi yang Dia inginkan. Menjadi egois itu, mengintervensinya. Sama seperti konsep dialog dengan diatribe. Kita sering berkata, “Mungkin saya perlu berdialog dengan dia, agar tahu apa yang dia butuhkan, dan dia tahu apa yang saya butuhkan.” Nyatanya, yang terjadi adalah diatribe, kita memaksakan kehendak kita untuk dia lakukan. We asked to be listened, without even hesitating to listen. Padahal, luaran yang diharapkan dari suatu dialog adalah I know that I know nothing, menurut Socrates. Diatribe itu di pikiran saya semacam I know that I know, you should listen to me. Itu jelas egois, dan bukan kasih.

Saya pribadi suka sekali dengan konsep kasih ini. Menurut saya, tidak ada konsep seindah ini. Direnungkan berkali-kali, bertahun-tahun sampai nanti menjelang ajal pun kita akan selalu merasa selama ini kita tidak tahu apa-apa, karena ada hal-hal baru yang kita tahu seiring berjalannya waktu. Konsepnya sangat sederhana, tapi sulit dilakukan. Kalau saya ditanya, apa pekerjaan tersulit di dunia? Jawabnya, menjadi seorang yang memiliki kasih. Menjadi kekasih.

So… know that you’re loved, for free, because you don’t have to pay at all. Love yourself, then spread the love!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s