Kebahagiaan seorang kakek penjaja es

Dalam terik panas matahari yang membakar kulit, kulihat seorang kakek menjajakan es dengan sepeda usangnya. Sering ia mengusap kepalanya dengan handuk kecil yang tersampar di bahunya, tanda lelah dan kepanasan. Aku selalu mengamatinya.

Kakek ini selalu berhenti di depan sekolah-sekolah, menunggu jam pulang sekolah, saat dimana anak-anak kecil berseragam putih merah berlarian datang menghampirinya, membeli es untuk melepas penat mereka belajar. Aku selalu mengamatinya.

Ia selalu tersenyum dan menyendok esnya banyak-banyak, bahkan lebih banyak lagi kepada anak-anak yang diketahuinya rajin datang membeli. Ia tampak bahagia menjajakan esnya setiap hari. Esnya selalu habis, tak jarang ia menghibur anak-anak yang menangis karena tidak kebagian es. Aku sering mendengar banyak orang menyebut kakek ini sebagai teladan kebahagiaan dalam kesederhanaan. Aku tahu.

Setidaknya, kebahagiaan itulah yang orang-orang lihat. Ia tahu, manusia suka melihat kebahagiaan. Secara alami manusia senang mendengar kabar gembira. Secara alami manusia ikut senang melihat orang lain senang. Kebahagiaan itu menular. Ia tahu, karena ia pernah merasakannya.

Setidaknya itu yang kutahu sampai aku benar-benar mengenalnya.

Mengenal kakek ini, berarti belajar untuk tahu apa itu ketulusan. Kakek ini sedang berbagi kebahagiaan. Ia ingin agar orang menjadi lebih bahagia dengan membeli es krimnya. Bahkan hanya dengan mengenalnya dan melihatnya saja kalau bisa. Kakek melihat begitu banyak keluhan, ketidakpuasan, amarah, dan lain sebagainya dari diri manusia. Ia tidak habis pikir kenapa mereka bisa dengan mudah membiarkan diri mereka dikuasai oleh itu semua. Baginya, itu sesuatu yang tidak menguntungkan untuk dimiliki, malah merugikan. Dan seperti setiap hal yang merugikan, tidak ada gunanya untuk disimpan. Ia harus disingkirkan jauh-jauh. Semuanya itu dilakukan tanpa gembar-gembor. Cukup ia dan Tuhannya yang tahu. Dan sekarang aku.

Mengenal kakek ini, berarti belajar untuk tahu apa itu penderitaan. Kakek ini sedang menderita. Menderita dalam kesendiriannya. Baginya, kesendirian adalah hal terakhir yang ingin ia rasakan dalam hidup. Orang tidak tahu kalau ia sedang merasakannya. Ia pernah merasakan kebahagiaan. Namun kebahagiaan tidak berlangsung lama. Tidak selamanya. Perlahan, kakek harus belajar untuk kecewa. Kakek harus merasakan apa yang ia selama ini pandang merugikan. Kakek mengeluh, kakek tidak puas, kakek marah. Kehilangan keluarga bukanlah hal yang orang inginkan rasakan, begitu katanya padaku.

Namun, inilah yang membuatku benar-benar belajar. Mengenal kakek ini, berarti belajar untuk tahu apa itu bangkit. Ia tahu rasanya mendapat keluhan, karena ia pernah mengeluh. Ia tahu rasanya mendengar ketidakpuasan, karena ia pernah tidak puas. Ia tahu rasanya marah, karena ia pernah marah. Itu semua sesuatu yang tidak menyenangkan. Kakek membuang pemikiran-pemikiran itu dan kembali mencoba berbahagia. Setidaknya, bahagia dengan caranya sendiri. Ia bangkit. Bangkit dari semua kebobrokan.

Menjadi cucu angkat seorang penjual es krim ternyata bisa membahagiakan. Aku bangga memanggilnya Kakek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s