Semua karena Kasih Karunia

Jadi, karena sudah lama sekali tidak update blog tercinta ini, lebih karena ga ada ide mau nulis apaan. Barusan tadi siang kepikir mau nulis apa, dan voila inilah dia, hahaha.

“Semua karena kasih karunia.” Kalimat tersebut terdengar sangat sederhana, namun begitu kuat. Begitu sederhananya, sehingga sekali dua kali dengar, pasti langsung terpatri di otak. Begitu kuatnya, karena dalam segala kondisi kalimat tersebut tetap bernilai benar.

Dari mana asalnya semua hal yang kita miliki sekarang? Pemberian orang tua? Pemberian kekasih? Beli sendiri, mungkin? Atau apapun, deh. Nemu di jalan, atau dapat gratisan karena dapat rejeki. Itu mungkin benar, tapi itu semua hanyalah metode. Cara memberinya. Tapi siapa yang sebenarnya memberi? Tuhan. Kenapa? Karena Ia mengasihi kita.

Tampak aneh ya, jadi handphone yang kita punya ini pemberian Allah? Karena Allah mengasihi kita? Kenapa Allah tidak sekalian memberikan iPhone saja ke kita, alih-alih memberikan handphone yang lebih murah ini? Kenapa tidak sekalian memberikan uang yang banyak saja, alih-alih menyuruh saya bekerja sedemikian keras?

Coba lihat lagi deh, contoh lain. Kali ini, jangan sesuatu yang tampak kelihatan. Soalnya yang kelihatan kan terlalu trivial :p. Bagaimana dengan.. keluarga? Teman-teman? Kepandaian? Kekayaan? Kadang kita tidak sadar kalau semuanya itu merupakan pemberian, nah sekarang kita sadar itu semua merupakan pemberian. Pemberian siapa? Allah tentu saja. Kenapa? Karena Allah mengasihi kita.

Jadi, apalah hak kita untuk meninggikan diri dan berkata kira-kira seperti ini, “Aku memiliki apa yang kalian tidak miliki” atau apapun yang terdengar meninggikan diri dan merendahkan orang lain, kalau semuanya itu sebenarnya bukan hak kita? Tidak ada bedanya dengan orang yang dipinjamkan barang lalu mengklaim barang tersebut miliknya, atau orang yang dipinjamkan barang lalu tidak dijaga dengan hati-hati sehingga rusak.

Justru, kita harus bersyukur atas semua pemberian itu. Tuhan memberikan sesuatu kepada kita tidak dengan tanpa alasan, tanpa tujuan, tanpa maksud. Seperti setiap hal yang ada, deh. Ada sebab, ada akibat dong? Lalu apa alasan Tuhan? Itu harus kita cari tahu sendiri. Masing-masing diberi sesuai dengan kemampuannya, dan berbahagialah karena pemberian itu sangat unik. Sekali lagi, unik. Bayangkan saja rantai DNA yang mampu menciptakan manusia dengan berbagai pembawaan dan karakternya, seperti itu pulalah Tuhan merancang kita semua, secara detail dan menyeluruh, seolah-olah kita ini sangat berharga. Merancang satu buah gedung saja bagi seorang arsitek membutuhkan waktu yang lama, karena ia harus mengetahui seluk beluk gedung yang akan dia bangun, apa bahan yang cocok, bagaimana kondisi tanah, bagaimana kondisi masyarakat sekitar. Tuhan kita sedang merancang seperti itu, hanya saja Ia merancang sebegitu banyak, dan masing-masing diciptakan dengan tujuan khusus. Luar biasa bukan?

Jadi, apa lagi yang bisa menahan kita untuk tidak berkata: Semua karena kasih karunia? Sebagai penutup, saya kira Paulus dengan jelas telah mengatakannya di Efesus 2:8-9:

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Dan untuk membuktikan kepada Anda bahwa Tuhan sungguhlah mengasihi kita, pandanglah ayat setelahnya:

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Efesus 2:10)

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Berkah dalem 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s