Buat Apa Takut?

Satu hal yang sedang saya coba tanamkan kepada diri saya sendiri adalah masalah yang saya jadikan judul di atas. Saya cenderung memiliki ketakutan dan kekhawatiran yang alih-alih membuat saya tetap terjaga, malah menjatuhkan diri saya sendiri. Apa akibatnya? Saya jadi tidak nyaman, hidup dalam ketakutan akan hal-hal yang sebenarnya belum tentu akan terjadi. Kata salah satu orang Solo yang saya kenal, 82% kekhawatiran kita tidak terjadi. Itu hasil penelitian terkemuka, jadi memiliki kekuatan ilmiah yang besar.

Kalau saya merenungkan lagi tentang ini, saya lihat bahwa Tuhan pun sebenarnya tidak menyukai orang-orang penakut. Dalam Wahyu 21:7 dikatakan

Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.

Lebih lanjut lagi, di ayat setelahnya, dikatakan

Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua. (Wahyu 21:8, TB)

Perhatikan kalimat pertama, penakut. Sering bukan kita merasa takut? Kita tahu bahwa kita harus melakukan sesuatu, namun kita takut melakukannya. Kita tahu bahwa Tuhan ingin agar kita melakukan sesuatu, kita tahu, tapi kita takut untuk melakukannya. Banyak alasan kenapa kita takut: takut dihakimi orang lain, takut dikucilkan, takut ditolak. Pada akhirnya, kita hanya mengabaikan semuanya itu.

Satu hal yang menegur saya belakangan ini, Tuhan tidak ingin kita menjadi penakut. Sebagai pengikut Kristus, seharusnya kita dikenal karena kekuatannya. Aneh, kalau orang tua yang atlet olimpiade memiliki anak yang kurus kering. Aneh, kalau anak seorang dosen matematika bahkan berhitung saja tidak bisa. Setidaknya itulah yang orang lihat. Aneh yang sama, kalau Tuhan yang kuat itu pengikutnya hidup dalam ketakutan. Ketakutan bukan jiwa seorang pemenang.

Pada akhirnya, apakah kita mau hidup dalam bayang-bayang ketakutan? Apakah orang-orang melihat kita sebagai orang yang perkasa, tidak kenal takut? Atau justru sebaliknya?

Sebagai penutup, mungkin ayat dari Mazmur ini cocok:

TUHAN adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku. (Mazmur 94:22)

Serahkan semua kekuatiranmu pada Tuhan. Ia mendengar kita. Ia memandang kita.

Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar?

Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?

(Mazmur 94:9)

Kalau kita punya benteng dan gunung yang kokoh tempat kita berlindung, buat apa takut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s