Doa

Berdoa kerap dilakukan sebagian besar orang. Setiap agama memiliki bentuk-bentuk doa. Ada beberapa suku yang memberikan sesajen dan mendoakan hal yang diperlukannya sehari-hari, misalnya kesehatan, anak, kemenangan untuk perang. Ada beberapa bahkan yang berdoa dengan mengorbankan manusia untuk menarik perhatian para dewa. Kenapa kita berdoa? Karena kita ingin berterima kasih kepada sesosok atau sesuatu atas kehidupan yang kita nikmati ini, juga karena kita merasa kecil dan tak berdaya, kadang takut. Kita berdoa karena kita tidak bisa menghadapi masalah kita. Doa merupakan sesuatu yang universal karena ia berbicara tentang kebutuhan mendasar manusia.

Saya percaya bahwa manusia, sejak lahir, memiliki naluri untuk ingin mengenal Allah. Kita diciptakan dan dibangun menurut citra Allah. Doa adalah cara Allah untuk memenuhi keinginan terdalam itu.

Doa membuat saya memahami bahwa bukan saya pusatnya, melainkan Allah. Banyak orang berdoa memohon ini itu, apa saja. Saya selalu berpikir bagaimana Allah melayani saya, bukan sebaliknya. Ketika saya merenungkan sejenak sudut pandang Allah, yang memiliki alam semesta yang begitu besar untuk diatur. Ini pertanyaan Allah kepada Ayub, yang mengeluhkan penderitaan-penderitaan yang ia alami, sekalipun ia merasa tidak bersalah

Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya?

Perdebatan panjang lebar Allah dengan Ayub membuat Ayub sadar, bahwa ia begitu kecil. Setelah Allah mencerahkan Ayub, ia tersungkur. Saya jadi sadar, bahwa siapalah saya ini. Saya merasa begitu kecil, dan memang begitu. Di hadapan Allah, saya merasa kecil karena memang saya kecil.

Doa membuat visi saya semakin menyerupai visi Allah. Saya belajar untuk mengerti, bahwa kekayaan duniawi bukanlah sesuatu yang layak diperjuangkan. Ia lebih cocok dipandang sebagai bahaya yang mengintai, yang sangatlah mengerikan dampaknya apabila tidak dipergunakan dengan bijaksana. Kecantikan, ketampanan, kekayaan, tidak akan ada gunanya nanti. Nilai manusia tidak bergantung pada apapun sukunya, atau statusnya, melainkan pada gambaran Allah yang ada dalam dirinya masing-masing.

Lihatlah Tuhan Yesus berdoa. Bagaimana Ia berdoa? Sepertinya Ia bisa betah berjam-jam berdoa. Ia tidak pernah mempertanyakan pentingnya berdoa. Ia biasa meninggalkan kerumuman orang banyak untuk menghabiskan waktu sendirian dengan berdoa. Ia begitu nyaman berdoa, dan gelisah dengan dunia. Yesus bergantung dengan hal yang kita semua juga bergantung. Dialah doa. Tuhan Yesus memandang doa sebagai sarana yang memberi-Nya kekuatan dalam menjadi mitra Allah di bumi. Kalau kita mau mencari Kerajaan Allah, pandanglah doa seperti Tuhan Yesus memandang doa.

Doa adalah proses berbicara dan mendengarkan. Saya berbicara, Allah mendengarkan. Allah berbicara, saya mendengarkan. Sedihnya, yang banyak terjadi adalah yang pertama, yang kedua kita lupakan. Belajar untuk berdialog dengan Allah tidak akan berakhir, karena kita bukan partner yang sebanding. Allah dengan saya, jelas tidak sebanding. Kenapa Allah mengajak kita, padahal jelas kita bukan partner yang sebanding? Kalau begitu, tentu satu pihak akan dominan, sementara yang lain akan cenderung berdiam diri, seperti aliansi antara Amerika Serikat dengan Papua Nugini, katakanlah. Hal tersebut benar, kalau manusia yang membentuk hubungan semacam itu. Allah tidak memiliki alasan untuk terancam. Sebaliknya, ia ingin agar kita bisa berkomunikasi dengannya dengan lancar dan jujur.

Doa merupakan hal yang sangat luar biasa kuatnya. Berdialog dengan Allah, bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Ada pepatah mengatakan: Tuhan hanyalah sejauh doa. Doalah jalan yang menghubungkan kita dengan Tuhan, jalan yang memungkinkan kita berbicara layaknya berbicara kepada orang tua, atau sahabat, atau kekasih, bedanya adalah kita yakin bahwa kita selalu didengar dan dikasihi, sebodoh apapun pernyataan kita. Seperti yang Paulus katakan,

Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.

Mazmur 103:10-14 mungkin bisa dijadikan penutup yang bagus:

Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takit akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

Marilah membiasakan diri berdoa dengan sudut pandang yang lebih dewasa. Tuhan berkati 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s