Átras Agora: A Journey of Life

Mau nulis ini sebagai wujud syukur atas terselenggaranya konser kemarin. Udah seminggu yang lalu sih, tapi baru sempet nulis sekarang. Sekarang lagi di Solo, kemarin habis dari Yogya ada lomba, dan main ke Solo ke rumah temen selama beberapa hari.

Well, ada sangat banyak ucapan syukur terlontar ketika tahu bahwa konser telah selesai dengan baik. Lega, karena semua beban yang selama ini ada, semua kekhawatiran, semua permasalahan yang timbul karena konser ini selesai juga. Begitu konser selesai, rasanya plooooong banget. Iya sih, masih ada beberapa tugas pasca konser, yang paling jelas ya bikin laporan pertanggungjawaban ya. Tapi karena acara utamanya udah selesai, otomatis kerjaan-kerjaan setelah konser itu tinggal ngikutin aja, dan gak susah-susah amat sebenernya.

Kenapa jadi ketua konser? Soalnya aku sebelum ini selama lebih dari setahun ada di kepanitiaan acara besar PSM yang lain, yaitu Dies Emas. Aku melihat banyak sekali hal yang masih bisa dibenahi, dan punya mimpi untuk mengubah itu. Oke, aku memutuskan untuk mengajukan diri jadi ketua konser, dengan mimpi bahwa konser Paduan Suara Mahasiswa ITB yang nantinya haruslah lebih megah dari konser sebelumnya, dan pengen nunjukin ke orang kalo PSM-ITB gak cuma bisa nyanyi lagu-lagu yang aneh-aneh aja. Lagu yang familiar di kuping pun juga bisa diaransemen secara apik, dan tentunya menghibur.

Berangkat dari mimpi itu, munculah visi dan misi. Bebarengan dengan itu, sibuk cari panitia. Aku ngeliat banyak bibit bagus sih untuk dijadikan panitia. Tinggal cari orang yang mau diajak bekerjasama aja, paparkan visi dan tarik komitmen. Agak lama sih cari panitia, karena waktu itu sibuk juga. Jadi.. baru ada panitia di pertengahan Februari.

Ada idealisme yang membara ketika menciptakan konser ini. Harus begini begitu, harga mati pokoknya. Ketika idealisme itu harus berbenturan dengan realita yang ada, yang terkadang membuat idealisme kita menjadi susah diterapkan, muncul dilema. Mau mengalah, membuat konser yang biasa-biasa aja, tapi dengan masalah yang jauh lebih sederhana, atau tetap lakukan apa yang sudah dicita-citakan sebelumnya, meskipun itu jadi lebih susah dan menantang?

Ego mengatakan, pilih yang kedua aja. Kamu pasti bisa, gak ada masalah yang terlalu susah untuk dihadapi. Tapi akal sehat mengatakan, kalau emang susah dan kamu jadi kesulitan, ya udah emang berarti harus ngalah dulu. Malah-malah kalo dipaksa, yang lainnya jadi kacau cuma gara-gara satu hal itu aja. Yang mana dong yang dipilih?

Jawaban yang paling bener sih tanya sama Tuhan. Buat apa sih konser ini? Buat apa capek-capek jadi ketua konser? Toh juga nanti berapa tahun lagi orang udah pada lupa. Ya emang gitu, segala sesuatunya adalah suatu kesia-siaan. Tapi satu yang saya pegang, kalau dari semua kesia-siaan itu kita bisa menciptakan dampak kekal kalau mau berpegang pada jalan Tuhan. Jadi pilih yang mana? Ya yang kiranya Tuhan rancang untuk kita. Tahu dari mana? Tanya. Gimana tanyanya? Ya berdoa saja toh. Sebenernya jawabannya gampang, cuma kita sering lupa aja. Jadilah kita ambil keputusan sesuai keinginan kita sendiri, yang ujung-ujungnya pasti gagal. Itu satu pelajaran yang sangat aku dapetin selama empat bulan terakhir.

Beruntunglah diriku ini, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat suportif. Panitia yang sangat berdedikasi, sahabat yang senantiasa mau meluangkan waktunya untuk mendoakan, dengar keluh kesah dan kasih saran, dan orang tua yang mendukung pilihan anaknya untuk memilih jadi ketua konser. Apa jadinya konser tanpa mereka, gak kebayang dan gak usah dibayangin deh ya. Penting buat cari lingkaran semacam ini. Terutama panitia sih, karena mereka yang akan terlibat secara langsung dalam masalah-masalah yang nantinya akan dihadapi bareng-bareng. Aku mau peluk semua panitia, baik ketua divisinya maupun anak-anaknya. Mereka sudah sangat bekerja keras, mau meluangkan waktunya untuk mengurus konser ini bersama-sama. Beban akademik pasti ga ringan lah ya bro, apalagi udah tingkat atas-atas kayak yang nulis ini, yang sebentar lagi jadi mahasiswa tingkat akhir. Eh jadi curhat :p

Ada aja masalah yang suka muncul tiba-tiba, gak diprediksi sebelumnya. Harus pinter ambil keputusan dengan cepat. Harus bisa kerja dengan cepat, dan yang penting, harus bisa ngomong sama orang. Kita pasti bakal ketemu orang dengan berbagai karakter, entah itu karakter muncul emang dari dirinya sendiri, atau pengaruh lingkungan dia berada. Harus bisa humble, harus mau mendengarkan masukan, harus bisa terima kritikan, dan semua itu tentu saja butuh belajar, ga bisa langsung sekali jadi.

Ladang-ladang seperti inilah tempat kita ditempa menjadi manusia seutuhnya, bukan dari segi akademik saja. Belajar di kuliah sama belajar di lapangan kehidupan itu beda. Tidak akan ada buku teks untuk dibaca ketika kita dituntut untuk ambil keputusan secara cepat dan berharap keputusan itulah yang terbaik. Mumpung masih jadi mahasiswa, banyak-banyakin aja belajar ginian. Kalopun salah, ya udah, kita belajar. Masih dimaafkan, kok. Kalo udah kerja, salah dikit, bisa dipecat (katanya :p)

Iya gitu deh kira-kira kalo mau berbagi pengalaman. Yang detail-detail gak akan ditulis disini, kepanjangan nanti, haha. Intinya sih, jangan takut salah, dan jangan takut untuk mencoba. Kuatir itu bukan kerjaan kita, kok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s