Mahasiswa yang Bermatematika

Sekarang mau ngelanjutin post sebelumnya. Kalo post sebelumnya isinya sharing tentang gimana rasanya ngurusin konser, sekarang mau sharing gimana rasanya ngurusin himpunan. Niatnya cuma mau share aja kok, bukan yang lain. 😀

Jadi, di tengah-tengah posisi sebagai Ketua Konser Tahunan PSM-ITB 2013, saya juga memutuskan untuk mengabdi lebih di himpunan. Disini, saya bercita-cita membawa himpunan saya, HIMATIKA ITB, menjadi himpunan yang lebih baik dari sisi keilmuan dan keprofesiannya. Lebih dari setahun saya mengamati fenomena di himpunan saya, sebagai himpunan mahasiswa matematika, yang notabene adalah ibu ilmu pengetahuan, sudah seharusnya jiwa-jiwa saintis dikembangkan secara lebih galak. Indonesia masih kekurangan saintis. Mahasiswanya rata-rata lebih memilih bidang pekerjaan yang sifatnya applied. Padahal, kita juga butuh orang-orang yang mau mendedikasikan hidupnya untuk meneliti dan mengajar. Kalo semua orang kerja di perusahaan, siapa yang nantinya mengajar adik-adik kita? Ini tidak bermasuk menyindir mereka yang memilih applied science sebagai pilihan masa depan loh ya, ya kalo mampu menyumbangkan pemikirannya di bidang tersebut kan malah bagus. Maksud saya, harus dirangsang juga jiwa-jiwa berbagi ilmu dan jiwa-jiwa menelitinya. Yang paling bagus ya sejak mahasiswa.

Nah, saya pribadi ingin agar jiwa-jiwa tersebut tumbuh di himpunan saya. Banyak orang menganggap meneliti itu pekerjaan orang pinter, jadi udah kalah duluan sebelum mencoba. Yang saya selalu tekankan, meneliti itu lebih menekankan ke komitmen. Kalo ga tahu, ya belajar aja, simpel sekali kan. Kalo ga bisa belajar sendiri, kan ada orang lain yang bisa bantu ngajarin. Kalo komitmen ini, harus udah punya dulu. Kalo ga komitmen, di tengah-tengah dia meneliti bisa-bisa ditinggal gitu aja kerjaannya cuma gara-gara alasan males, dan lain-lain.

Di keprofesiannya sendiri, saya kira masih banyak stigma orang-orang yang tidak menekuni matematika, akan berkata kalau lulusan matematika paling-paling cuma jadi guru atau dosen. Anak matematikanya sendiri, dengan bangga bilang, kita bisa buktikan kalau anak matematika ga cuma bisa jadi guru atau dosen. Voila, banyaklah yang masuk ke dunia perbankan, dunia industri, dan masih banyak lagi. Mereka memang sih bisa mematahkan stigma orang-orang yang skeptis akan potensi seorang matematikawan. tapi… jadinya ga ada yang jadi tenaga pengajar. Bahaya dong.

Maunya keprofesian tuh gini, kita menumbuhkan kebanggaan akan matematika. Apa saja kelebihan alumni matematika, apa saja kekurangan alumni matematika, sedini mungkin. Ya yang paling pas sih semenjak duduk di perkuliahan ya. Pengennya, anak matematika tuh bisa berbangga diri kalau disiplin ilmu yang mereka tekuni itu dibutuhkan di hampir semua lini. Mereka jadi fleksibel sekali kalau mau masuk mana aja. Tapi, harus ditekankan juga jiwa-jiwa saintis seperti yang udah dituliskan di atas. Jadi, mereka tidak terdoktrinasi harus masuk dunia keuangan untuk membuktikan diri mereka tidak hanya bisa menjadi dosen atau guru. Semuanya dikembalikan kepada mereka. Kalau merasa mampu menjadi pengaruh positif bagi orang banyak melalui keilmuan matematika keuangan, ya udah kembangkan itu. At least, mereka sudah terbekali pentingnya matematika sebagai core ilmu pengetahuan.

Itulah pandangan saya. Mungkin masih banyak kekurangan dari pandangan ini, saya sangat membuka diri akan kritikan dan masukan. Have a nice day, everyone! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s