Rancang pertunjukan.

Kelak, kau akan menemukan dirimu sedang merancang sesuatu. Kapan? Aku tidak tahu. Megah, mungkin. Mungkin juga sederhana. Itu hanya kau yang tahu.

Katakanlah, kau akan merancang sebuah pertunjukan. Kau akan butuh manusia-manusia lain, tentu. Kau ingin menikmati pertunjukan ini. “Oke, apa saja yang dibutuhkan?” pikirmu, mungkin, sambil bersemangat.

Kau akan butuh aktor dan aktris. Yang terbaik di bidangnya. Kau ingin pertunjukanmu sukses. Mungkin kau ingin semua penonton bertepuk tangan sambil berdiri saking takjubnya. Oh ya, aku lupa. Pasti kau butuh penonton. Mana ada gunanya membuat pertunjukan jika tidak ada yang menonton, kan?

Awalnya, kau tidak yakin akan kemampuan orang-orang. Kau akan merasa hanya kaulah yang cocok menjadi pemeran utamanya. Dan, kau akan merasa plot ceritanya haruslah yang kau kenal betul. Kau akan memilih kehidupanmu sendiri. Kau pasti akan pilih yang berkesan. Yang menyenangkan, yang kebanyakan orang pilih. Ada juga yang memilih yang sedih-sedih.

Lalu, kau mulai merasa segalanya tidak berjalan seperti yang diinginkan. Pemeran lainnya terlalu loyo, mungkin. Alat pendukungnya tidak berjalan sesuai seharusnya, mungkin. Terlalu banyak distraksi. Kau pun mulai pusing. Tiba saatnya kau merasa tidak mungkin pertunjukan itu bisa jadi.

Saatnya akan tiba, entah lama ataupun sebentar saja, kau merasa kau terlalu egois. Kau tertegun, dan mulai menyadari kesalahanmu. Entah kau akan mengutuki dirimu sendiri dulu ataupun langsung bergerak cepat mengubah segalanya karena merasa sudah banyak waktu yang terbuang, yang jelas nantinya kau memilih untuk lebih santai.

Kau akan mempersilakan siapapun tampil di pertunjukanmu. Bahkan jika ia berkenan, ia boleh menjadi pemeran utamanya. Plot cerita? Tetap kau yang menentukan. Tapi, kali ini kau ingin segalanya tampak lebih natural.

Tiba saatnya pertunjukan. Kau takut gagal lagi. Kau berdoa. Kau duduk di kursi penonton paling belakang, mengamati pertunjukanmu sendiri, dan juga penonton yang hadir. Pertunjukan berjalan dengan baik. Kau menikmati jalannya pertunjukan. Kau bahkan tidak merasa bosan, sekalipun kau sudah tahu detail ceritanya.

Penonton bertepuk tangan. Riuh, senang, dan puas. Mereka pulang dengan hati gembira.

Sekarang kau sendirian di gedung pertunjukan. Semua sudah pulang. Kau merenungi pertunjukanmu tadi.

Pada akhirnya, kau tersenyum dan meninggalkan tempat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s