Doa untuk keberhasilan, kebahagiaan, dan lepas dari kesulitan?

Secara alami, kita cenderung berdoa untuk kesuksesan, kebahagiaan, tidak ada masalah yang menghadang, hal-hal semacam itu. Dalam doa, kita bersyukur pada Tuhan apabila merasakan hal-hal tersebut datang kepada kita. Namun, dalam Khotbah di Bukit, Yesus menyatakan bahwa orang yang ‘diberkati’ adalah orang yang justru mengalami penderitaan, kemiskinan, penganiayaan, kelaparan.

Bagaimana iman kita bertahan tatkala hal tersebut datang kepada kita? Bisakah iman kita bertahan tatkala rumah kita hangus terbakar, tidak menyisakan apapun untuk kita nikmati lagi? Bisakah iman kita bertahan tatkala orang-orang yang kita pikir mengasihi kita pergi meninggalkan kita? Bisakah iman kita bertahan tatkala kita dianiaya karena menyebarkan Injil? Apakah kita sudah meminta Roh untuk memberikan kita kekuatan tatkala hal-hal itu datang kepada kita?

Dalam buku Prayers of the Martyrs, betapa sedikit orang yang berdoa meminta pembebasan dari raungan singa, gladiator yang akan mengeksekusi mereka, atau orang yang akan memasukkan pistol ke mulut mereka. Mereka justru berdoa bagi keluarga yang ditinggalkan, keteguhan iman, serta kekuatan menghadapi maut tanpa rasa malu. Beberapa diantara mereka justru bersyukur karena boleh merasakan penderitaan bekerja demi Allah, dan terkejut karena mereka dianggap layak menjalaninya. Beberapa berdoa memaafkan penganiaya mereka.

Sangat sedikit yang meminta mukjizat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s