Manusia dan naturnya.

Dalam tulisan kali ini, saya ingin membahas tentang natur manusia. Manusia, secara alami, ingin menjadi yang terbesar, ingin mendominasi, ingin dipandang baik oleh sesamanya, ingin dilihat punya kemampuan dan kekuasaan. Disini, saya mendefinisikan sesuatu disebut manusiawi jika hal tersebut memang sudah menjadi natur manusia. Dalam hal ini, apa yang saya kemukakan di atas tadi adalah manusiawi.
Saya baru kemarin misa sore di Laurentius Bandung, dan kebetulan bacaan Injil hari itu adalah tentang para murid yang mempeributkan siapa yang terbesar di antara mereka (Mrk. 9:33-37). Dalam hal ini, apa yang Yesus lakukan mengetahui perdebatan ini? Ia berkata,” Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”
Sungguh suatu perbuatan yang sama sekali tidak ‘manusiawi’! Alih-alih mengikuti natur manusia, Yesus menyarankan suatu hal yang benar-benar mengejutkan. Menjadi pelayan, yang artinya melayani kebutuhan orang lain yang bukan dirinya. Setelah mengatakan itu, Yesus kemudian ‘mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka’ sambil berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”
Apa yang ingin dikatakan Yesus dengan mengambil anak kecil ini? Pemahaman saya adalah, karena anak kecil adalah makhluk yang polos. Hatinya masih murni, belum dipenuhi roh-roh kedagingan. Coba lihat anak kecil yang menangis karena merasa diperlakukan tidak adil, dalam beberapa saat dia sudah bisa tertawa lagi seolah-olah tidak ada yang terjadi. Itulah yang menurut saya Yesus inginkan, bahwa janganlah kita menyimpan dendam dan kemarahan kita dalam perbuatan kita. Inilah yang membuat kita ditinggikan di hadapan Allah, yaitu yang mampu menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.
Jadi, natur manusia sebenarnya dipenuhi oleh kedagingan jika kita belum sungguh-sungguh menerima Allah sebagai Sosok yang kita hormati dan percaya. Jika kita sungguh-sungguh memercayakan segala sesuatunya kepada Allah, kita akan menjadi sosok yang penuh cinta kasih dan buah-buah Roh bisa berbuah dalam hati kita.
Have a good day, everyone!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s